Oleh: Ahmet Chaw
Bandung,
Sekre Baru.
07 April 2018
![]() |
| Source: http://www.google.co.id |
Sore itu, selepas jamaah Maghrib di masjid dekat rumahku, kegiatanku selanjutnya belajar ngaji Al Qur'an dan tajwid bersama teman-teman sebayaku. Ustadznya tetanggaku sendiri.
Kegiatan ngaji ini dimulai setelah maghrib sampai menjelang shalat Isya'. Aku dan teman-temanku duduk sila melingkar sambil memangku kitab suci Al Qur'an, menghadap ustadz. Kami semua khusuk menyimak ustadz yang sedang menbacakan berapa ayat dari salah satu surat yang kami pelajari. Kemudian, setelah ustadz selesai membacakan, kami diminta untuk membaca secara bergiliran. Dan sesekali, kami diberi pertanyaan hukum bacaan tajwid pada ayat yang kami baca. Alhamdulillah, aku bisa menjawabnya dengan lancar.
Waktu itu belum ada listrik. Sebagai penerangannya masih menggunakan lampu gaspon --begitu orang-orang menyebutnya--.
Lampu gaspon itu bahan bakarnya dari minyak tanah yang disimpan di dalam tangki yang terdapat di bagian bawah. Tangki itu dilengkapi dengan alat untuk memompa dan uliran (alat untuk mengatur besar kecil keluarnya minyak tanah). Di atas tangki, terdapat kaos (sumbu yang terbuat dari kain terancang) yang dilindungi kaca (semprong). Sumbu itulah yang menyimpan api dan bercahaya seperti lampu neon. Agar cahaya lampu lebih fokus, lampunya dilengkapi dengan aksesoris berupa seng berwarna putih. Namanya kap. Bentuknya lingkaran. Tengahnya ada lubang seukuran bagian atas lampu. Lalu setelah menyala, lampu itu dicantolkan di atas pintu antara serambi dan bagian dalam masjid dengan paku.
Setiap lima belas menit menjelang waktu maghrib tiba, ada petugas yang menyalakan lampu gaspon itu. Namanya Man Mun. Entah, siapa nama lengkapnya, aku tidak tahu persis. Orang-orang biasanya memanggil seperti itu. Setiap kali ia menyalakan lampu gaspon, aku dan beberapa temanku selalu mengerubuti Man Mun. Sementara teman yang lain bermain kejar-kejaran di serambi masjid. Ada pula yang piket memompa sumur dragon, mengisi air jeding untuk wudhu. Kebetulan hari itu bukan piketku, jadi aku berkesempatan bermain-main dengan temanku. Kebetulan, hari itu cadangan minyak tanah (kami menyebutnya gas) buat bahan bakar lampu gaspon habis. Man Mun meminta tolong kepada kami untuk membelikannya di toko. Ia menyodorkan botol bekas minuman temu (lemon) kepada kami dan sejumlah uang.
"Minta tolong belikan minyak tanah di toko. Bilang sama Bu Dhe (pemilik toko), supaya botolnya diisi penuh," pesannya.
"Iya, Man," aku menerima botolnya. Sementara uangnya dibawa temanku.
Sesampainya di toko, kami megutarakan niat kami. Sepertinya Bu Dhe sudah paham dengan maksud kami. Karena setiap kali membeli minyak tanah untuk masjid, pasti di toko ini. Sudah langganan.
"Ini uang kembaliannya. Pegang yang erat. Jangan sampai hilang," pesan Bu Dhe. Sambil menyodorkan botol berisi minyak tanah yang ditutup dengan janggel (bonggol) jagung.
"Iya, Bu Dhe," jawab kami bersamaan.
Kali ini yang membawa botol berisi minyak tanah temanku, Sholeh. Sementara aku membawa uang kembaliannya. Aku genggam dengan erat. Agar tidak jatuh. Begitulah kegiatan setiap sore yang kami lakukan.
Kami belajar ngaji tidak dikenakan biaya. Gratis. Hanya saja, ustadz bilang, kami diminta iuran lima ratus perak untuk membeli minyak tanah (gas) buat lampu gaspon.
Selain itu, setiap habis ngaji, kami diminta ustadz untuk memijat beliau. Karena aku dan teman-teman tidak bisa pijat, sebagai gantinya, beliau minta diidek-idek. ---Idek-idek itu memijat dengan menggunakan kaki. Ustadz tengkurap, kemudian aku berdiri di atas punggungnya sambil berjalan pelan-pelan.--- Setiap lima menit, yang idek-idek gantian. Itu kami lakukan setelah jamaah shalat Isya'.
Setelah idek-idek ustadz, kami keluar masjid bersama-sama temanku.
"Do, kapan kamu masuk pertama, sekolah?" tanya Munawar, temanku yang melanjutkan sekolahnya ke SMP.
"Sabtu ini, terus Sabtunya lagi," jawabku. "Kamu kapan?" aku balik tanya.
Waktu itu sekolah Tsanawiyah masuknya siang dan liburannya hari Jumat. Jadi itu juga yang jadi alasan teman-temanku untuk tidak memilih sekolah di Tsanawiyah.
"Aku Senin," jawabnya. "Kamu sudah beli seragam baru?"
"Belum," jawabku singkat. Sambil berjalan menuju tempat sandal-sandal kami berada.
"Kata bapakku, besok aku mau diajak ke pasar. Buat beli seragam, sepatu dan buku baru," tanpa ku tanya, Munawar memberitahuku.
Aku tidak merespon kata-katanya. Lalu kami berpisah dan berjalan menuju rumah masing-masing.
Sebenarnya di anganku menerawang jauh. Waktu masuk sekolah tinggal dua Minggu lagi. Tapi kebutuhan untuk masuk sekolah belum terpenuhi, termasuk tas dan buku. Aku juga belum dibelikan seragam baru. Seragam yang aku butuhkan sebanyak tiga stel. Baju putih - celana pendek abu-abu (endok kuntul biasa kami menyebutnya --warnanya seperti telur burung bangau--), pramuka. Untuk baju batik, belinya disediakan di koperasi sekolah.
Aku tidak berani bilang kepada orang tuaku. Sebab, aku tahu bagaimana kondisi keuangan keluargaku. Waktu itu, Bapak dua hari yang lalu baru saja pulang bekerja dari Surabaya. Uang hasil bekerja bapak, buat beli beras dan sebagian buat bayar hutang ke tetangga. Sebab, sebelumnya, ketika bapak belum pulang dari Surabaya, emak sudah pinjam beras ke tengga. Kemudian emak janji, dibayar setelah bapak pulang.
Aku masih punya tas dibelikan bapak sewaktu kelas 4 SD. Masih lumayan bagus. Nanti masih bisa ku gunakan sekolah di Tsanawiyah. Tas itu terbuat dari kain parasit. Warnanya ungu dan biru muda. Resleting (rek)nya sudah rusak. Tapi sudah diganti. Oleh emak dijahit dengan tangan sendiri. Reknya berwarna hitam. Benang yang dibuat jahit berwarna putih. Jadi warnanya sangat kontras.
Sementara sepatu, juga masih bagus. Dibelikan sewaktu aku kelas 5. Merknya ATT. Ukurannya lebih besar dari ukuran kakiku. Kata emak, waktu aku dibelikan sepatu itu, sengaja diambilkan yang ukurannya besar. Katanya biar awet. Bisa digunakan bertahun-tahun. Kala itu aku senang sekali dibelikan sepatu baru. Waktu ku coba, betul, ukurannya terlalu besar. Ujungnya jika dipijat pake jari, ompong. Solusinya, ujung sepatu bagian dalam diisi dengan kain gombal. Sebagai subal. Agar ketika aku buat jalan tidak lepas.
Waktu terus berjalan. Dua belas hari lagi waktu masuk sekolah akan tiba. Pagi itu, emak dan mbah dok sedang masak di dapur (pawon). Aku duduk di depan tungku. Lalu membantu memasukkan kayu bakar ke dalam tungku agar apinya tidak keluar. Kakakku duduk seperti biasanya di depan kandang kambing. Di sebelah ruang dapur yang hanya dibatasi oleh sesek trancang. Sementara Mbah dok, sibuk membuat bumbu di dekatku dan emak korah-korah (mencuci piring dan peralatan dapur lainnya). Bapak sudah berangkat ke sawah, tadi selepas Shubuh tadi.
Aku beranikan diri untuk bilang kepada emak dan Mbah dok.
"Mak, sebentar lagi aku masuk sekolah di Tsanawiyah," kataku mengawali perbincangan pagi itu.
"Loh, iya ta, Le, kapan?" tanya emak kaget.
"Hari Sabtu depan, mak," jawabku.
Teman-teman sudah dibelikan seragam baru, "Mak. Hari ini mereka ke pasar sama orang tuanya," aku menjelaskan kepada emak dan Mbah dok.
"Lha, terus pye, ndhuk?" kata Mbah Dok sambil ngulek bumbu suyur lodeh.
Mereka berdua saling berpandangan. Entah, apa yang beliau pikirkan waktu itu. Aku pun tahu, sebenarnya emak tidak cukup uang untuk membelikanku seragam baru.
"Ya, sabar dulu, le. Nanti emak sampaikan kepada bapak kalau sudah pulang dari sawah," jawab emak menghiburku.
Bersambung....
(Mohon maaf jika ada kesalahan kata, kesamaan memberi nama Tokoh/tempat)

0 Comments
Posting Komentar